Kamar Yang Dicat Putih

/1/
sudah lama aku tak melihat dia
mungkin ada seminggu setelah kamar itu dicat putih
tak ada noda yang tersisa di dinding itu
bahkan semua guratan garis-garis penanda waktu pun hilang seketika
dan dimulailah perjalanan ini

/2/
dua bulan aku meraba seluruh pori di dinding
hanya untuk mencari alur sungai menuju ke dataran rendah
karena biasanya air memang akan menuju kebawah
yang berujung di kumpulan air yang kita sebut danau
tapi di bidang putih yang sekering ini
hanya asa yang bisa melumat segala lelah
dan membuat kaki kita bisa tetap berdiri tegap,
tangan kita bisa tetap meraba dinding,
hanya untuk mencari jalan setapak
untuk keluar dari ruang pengap
yang makin terasa sesak

/3/
kabarnya di luar ada yang menjual pensil
yang bisa aku pakai untuk menggambar ulang
alur sungai ke danau dan jalan setapak itu
tapi bagaimana aku keluar kalau semua pensil adanya di luar?
tiba-tiba jendela mulai menutup dan setengah mati coba kutahan
karena aku masih butuh cahaya walaupun jingga yang tersisa
dan itu pun tak kan lama, karena aku tahu
bahwa jingga pun tak akan bisa lama bertahan
dalam serbuan kelam

/4/
“Percuma kamar ini di cat putih” kataku
aku tak peduli apakah ia mendengar atau tidak
tak selembar cahayapun bisa ia tangkap
walaupun kamar ini sudah di cat putih
dan aku masih juga terus meraba
karena bila aku sudah menemukan alur sungai itu
aku tak akan kuatir akan kehausan
dan kalau aku tak kehausan maka aku akan punya energi
untuk tetap bertahan dan mencari jalan setapak itu
tapi tetap saja gelap memeluk
dan aku ikut memeluk gelap
karena lelah meraba

/5/
sudah lama aku tak melihat dia
mungkin ada setahun ketika kamar itu dihancurkan
pecahan-pecahan dinding masih tercecer
bersama dengan serpihan asa
di dasar sungai di sebelah jalan setapak
ah kemana saja aku selama ini?

19.05.2009, 02:28AM

Mata

sepasang bola yang menjarah cahaya untuk dipersembahkan pada gundukan otak dalam semangkuk hara

sepasang teropong yang tak henti-hentinya menerka jarak antara helai rambut dan untaian bayang di ufuk.

sepasang jalan raya yang tak pernah sepi akan lalu lalang rasa, dimana kuingin sejenak melaluinya

sepasang jendela lemari dimana di dalamnya tersimpan ribuan rindu yang tertata rapi di tiap ambalan hati

17.05.2009, 02:17AM

Kematian Kecil

Malam ini aku bertemu mati. Dan kematian ini menjemputku dengan segelas anggur. Dengan mata sembab dan lelah akhirnya ia berkata jujur padaku.

“Maaf aku harus menjemputmu”

Seketika aku sudah berada di sudut sebuah ruang kosong. Ditemani oleh degup jantung yang sama takutnya dengan aku.

Malam ini aku bertemu mati. Dengan sesenggukan ia duduk di sampingku. Kita menangis bersama karena kita tidak pernah menyangka bahwa kita akan duduk bersama. Di sudut ruang kosong ini.

12.04.2009, 05:50AM

Akan

Akan ku mulai dengan apa adanya
sesederhana birunya langit di saat kau buka jendela di pagi hari
dengan desiran angin sesejuk embun yang menerpa wajahmu
saat kau peluk rerumputan hijau nan segar.

Akan ku mulai dengan sepatah kata
yang telah kupersiapkan jauh hari
di saat jingga mentari senja
mencoba merayu malam agar tak segera memeluknya.

Akan ku tangkap apa saja yang kau tumpahkan,
sementara alampun kadang meruntuhkan langit
serupa butiran dingin yang bisa menyegarkan
dan bisa juga menyakitkan.

Akankah kau dengar denting gitarku
yang kupintal dengan sejumput lirik berbalut rasa?

Akankah kau simpan dalam laci di hatimu
sebentuk asa yang selalu kujaga siang dan malam?

Akan ku tutup mata kecil ini
seiring dengan turunnya hujan
dan balutan dinginnya selimut kelam

04.04.2009, 12:30PM

*Sajak ini dibuat bersamaan dengan menyimak lagu “Cayman Islands” dari Kings Of Convenience*

Bukalah…

Dalam tanda tanya kembali tertegun mata kecil itu. Mata yang sudah bertahun-tahun kutatap, yang selalu penuh dengan kasih, kini terlihat dipenuhi awan kelabu. Mata yang dahulu bak samudra kini sedang dilanda badai yang mengkerucut, hingga menusuk kedalam dasar yang terlanjur membiru.

Tanpa tanda-tanda kembali ku coba untuk menenangkannya. Sebatang padi yang terkulai bukan karena putik yang dipenuhi bulir, namun terpancar kelelahan yang menjerat dan mengekang isi kepala. Tak kudapat jawaban yang lebih jelas seolah matahari sedang terbenam di timur lalu dari ufuk ia meminta tolong dari pelukan tabir gelap.

Dengan hati hampa, sepasang kuping dan sebentuk hati coba kuberikan. Dengan sejumput harap apapun yang tumbuh dan bergejolak akan bisa tertampung untuk kemudian diuraikan menjadi bulir-bulir bambu yang siap untuk dianyam menjadi sebuah kehidupan baru.

Kini…
Bukalah…

18.03.2009, 01:11AM

Sepi

Sepi adalah sekumpulan kabut yang kadang menyekat dinding rasa hingga kosong mengisi relung hati.

Kadang kita dimabuk sepi, terjerembab di jalur kelu, memeluk resah dan tiada arti.

Namun apakah kau tahu bahwa rupa berkata dan nafas menjawab. Saling bersahutan seperti sahabat lama yang tidak pernah bertemu.

Sepi adalah sekarung bibit yang sudah tumbuh sebelum ditanam. Rontanya terasa sampai ke dada.

Begitu indah hingga kita tak yakin apakah ingin menyimpannya atau menguburnya

29.03.2009, 01:49AM

Ketika Dingin & Sepi Bersekutu

Ah…ini terulang lagi untuk yang kesekian kalinya. Kombinasi hening dan suara jalan raya kali ini makin memperkaya himpitan sepi. Mereka tertawa dan bergurau tapi tak sekalipun menyentuh gendang telingaku. Diam-diam onggokan selimut dan bantal mulai membujuk. “Sudahlah, sudah waktunya kau bergabung dengan kami. Akan kami tunjukkan bagaimana rupanya alam tak berujung. Lempung basah yang siap kau bentuk menjadi apapun yang kau mau”. Dan diam-diam gumam yang tertahan sedikit demi sedikit meluncur halus ke tenggorokan dan membentur dua lembar pita suara yang telah lama membeku.

Seandainya suara itu bisa kulihat
Tentu kini aku telah bersetubuh
dengan gumpalan pelangi…

Ah…aku terbangun lagi untuk kesekian kalinya malam ini. Kerutan dan butiran peluh berkejaran merajam tubuh. Kali ini jantung pun ikut menyambut dengan ketukannya. Dingin kembali menggoda, dijilatnya kulit tubuhku dengan gigil. Lalu perlahan gemeretuk gigi pun mulai melengkapi ritual datangnya pagi. Diam-diam aku menyusupkan harap di sela rongga dada. Dalam hati aku berkata:

Peluklah rerumputan ini
Karena jika pagi datang
Ia akan memberimu embun
dan sepercik kehidupan

Ah….sepertinya sekali-kali aku harus coba untuk membisu. Dan membiarkan semuanya menghirup hidup. Sampai akhirnya mati menjemput

20.03.2009, 02:38AM

Hidup

Hidup ini aneh. Kadang kita merasa mengatur sebuah biduk kehidupan bukanlah hal yang sulit. Dengan guratan singkat dan jelas, memasukkannya ke mesin pengolah maka hidup akan berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tapi ternyata tidak. Seperti analogi biduk, di laut luas, selepas jangkauan ternyata alam bisa merajam sampai tandas lunas biduk itu. Dan kadangkala tak sempat kita sadar, air sudah sampai ke leher dan waktu tinggal detik-detik yang bergema.

Hidup makin terasa aneh. Pada saat pemberontakan kecil yang kerap terjadi di beberapa buku dari kulit kepala sedemikian seru nya sehingga kita lupa yang mana yang seharusnya tetap ada di dalam kepala dan yang mana yang bisa kita lepaskan ke udara. Kita lupa bahwa di tubuh kecil ini masih tergantung infus berisikan oksigen yang menempel di hidung. Kita lupa bahwa setiap nafas di dunia ini terhubung satu sama lain. Dan jika kita terus-terusan lupa dan tidak ingin mencoba kembali maka selamat datang di panggung raksasa dimana kita semua jadi aktor dadakan, di sutradarai oleh sekelebat kabut abu-abu yang tidak bisa kita tebak akan menjadi putih ataukah hitam.

Hidup memang aneh. Dan anehnya kadang kita tidak merasa aneh. Di tengah buaian suara yang muncul di otak bagian belakang yang kita sendiri tidak tahu asalnya darimana membuat kita semakin yakin sebesar lubang yang menganga ketika kita berjalan dengan wajah tengadah.

*hasil modifikasi dr tulisan singkat di sini*

11.02.2009, 12:34AM

Perjalanan - Scene 1: Overture

Aku memulai perjalanan ini pada saat angin ribut sedang memporak porandakan rumahku. Tiap malam hujan badai mendera dengan kilat yang mengerikan menyambar ke setiap pojok rumah. Ya badai ini terjadi di dalam rumah dan pusatnya adalah di kamar tidur ayah dan ibu. Mereka berdua seolah sedang adu kesaktian dengan segala macam cara agar bisa mengoyak-ngoyak tiap jengkal kulit masing-masing. Kadang akupun heran dan bingung, bagaimana aku bisa ada di dunia ini dengan kondisi secarut marut itu?

Tiga malam telah berlalu, badai tak berkesudahan masih menggetarkan tiang-tiang pancang rumahku dan aku memutuskan untuk pergi. Berbekal gundukan nyali yang telah lama kukumpulkan sedikit demi sedikit akupun membuka jendela dan ransel kumal yang telah kusiapkan dari sore kupanggul. Rerumputan dan asoka putih di pekarangan seolah-olah melambaikan helai bunganya berharap aku bisa menjaga diriku baik-baik. “Jangan kuatir”, bisikku dalam hati yang tentu saja sudah yakin bahwa badai di dalam jauh lebih berbahaya. Dan sesekali aku menyeka airmata yang meleleh dan mulai membalikkan tubuhku untuk tidak sedikitpun akan menoleh ke belakang lagi.

20.01.2009, 12:36AM

Gaza

di padang itu
kaki dan tangan saling mencekik
sekerat tanah tempat memekik
tak kuasa mereka petik

di sisi Gaza
anak Adam saling menggigit
darah mengalir mengisi
ceruk keringnya sungai

di sudut hati
jerit sukma tak tertahan
wajah mungil tanpa tawa
tersedak berhias sedu sedan

di lipatan kafan
tubuh biru yang tak rela
pasrah menelan butiran ego
dan serpih mortir

11.01.2009, 01:57AM

« Previous Entries