Sebungkus Hati Berbalut Sendu

sejumput hati kubalut dengan luka
walau ragu membebat kalbu
namun bunga rindu luruh jua
tercelup bersama airmata dan debu

lembaran jiwa makin terasing
di tengah waktu yang mencekik
gigilku meradang tanpa geming
terseret ke dasar yang berderik

sebungkus hati terlanjur pilu
kukirimkan padamu berbalut sendu
dengan penuh asa kan berlalu
harapku kau pun kembali berlabuh

pondokindah, 28.02.2007, 11:22

Pupur Rindu

masih tersisa gurat nama di meja sudut kelas
saat merambah kenangan menerka warna warna
selusin rumusrumus tertoreh di dinding itu
dan serentak getarmu mencengkeram hati

terjebak kita dalam percakapan tak tahu diri
seolah badan tak berpolah dalam perigi
meleleh cinta luluh terbalut buta sanubari
lalu, ingatan apa yang terlipat di lembar diari

adakah guratan kalbu kau pupuri dengan rindu
atau hanya gejolak dalam ratap sesaat lalu
o kelam, pelukmu mengagahiku selalu
o suram, ragumu meninggalkanku kelu

*puisi kolaborasi setiakata & bangwin*

YM, 27.02.2007, 15:58

Ambiguiti Puitika (ver.3)

mereka mendaki rasa
di kedalaman sambil mereka
dalamnya hati yang terbuahi
oleh buah olahmu seolah
bisa berbisa di dalamnya

gagahku tercacah di pedalaman
hatimu sambil perhatikan
rasa yang penuh daki dalam
pendakian menuju kegagahan
hati tergagahi

buahilah buah olahmu
seolah pembuahan itu
membuahkan rasa tercacah

dan kegagahan yang kau
lakukan selalu membuat laku
dalam bisa yang kau olah

rawamangun, 24.02.2007, 10:12

Selamat Tinggal Langit Biru

kau lihat ketakutan itu?
kau dengar dentuman itu?
mengapa harus lari berteduh
pada saat dunia yang baru
di sajikan, di bawah langit biru

kau lihat ketakutan itu?
kau dengar dentuman itu?
semua nyala tlah jadi debu
tapi pedih masih menggebu
selamat tinggal, langit biru

*di terjemahkan dan di interpretasi-ulang dari lagu Pink Floyd yang berjudul “Goodbye Blue Sky”*

rawamangun, 24.02.2007, 09:29

Hikayat Pepohonan

: kepada cahaya

hutanku menghirup keresahan
jengah merambahi pepohonan
selimut kelam makin menebal
langka cahaya jadi mengekal
di kekang lengan mencekal
pepohonan ek yang membebal

gundah menerkam jejatian
berjejalan meraup sesinaran
terjerat naungan siksa bayang
memaksa hidup tanpa ampunan
di bawah pepohohan ek merindang

gundah menyeruak membuncah
hidup dalam hutan berlarian
seiring teriakan “penindasan!”
bergeming kaku dengan gelengan
pepohonan ek yang membatu

segala hidup jejatian menyatu
di bawah hutan berselaput kelam
“rakus melahap mereka” ujarnya
segala cahaya di telan tanpa sisa
itu yang harus direbut, kawan

kenangan mengganti tekanan
pada hukum yang agung mulia
keadilan membungkus pepohonan
dari beliung, gergaji dan kapak

*re-intrepretasi lirik lagu dari grup asal Kanada, Rush, yg berjudul ”The Trees”*

rawamangun, 22.02.2007, 24:39

Sepi

: Pakcik Ahmad

sepi yang mendengkur
tertimbun asa semusim
kau dan waktu berjalan terpekur
hingga sekam melelehkannya

sepi yang terbenam menerjang keluku
hingga ruah kata tertumpah
banjiri ruang benakku
dan puisi pun terambah

rawamangun, 17.02.2007, 12:13

Hening dan Galau

hening dan galau tibatiba
menjadi sahabat sejati
segenggam tanya menyekat jiwa
memilin benak mengurai hati

jiwa ini terpaku sendiri
terlalu lama untuk termenung
sepi meranggas rasa tercekik
lelah merenda hati yang termangu

hening dan galau saat ini
menggantungku dengan keji
menghujam dada dengan taji
menoreh kata yang enggan pergi

rawamangun, 17.02.2007, 24:56

Perdebatan Dengan Malam

sudah habis rasanya geram
dalam hati yang terekam
perdebatanku dengan malam
tak kan pernah teredam
yang ada hanyalah dendam
dan sisa-sisa jiwa membungkam

datanglah wahai kelam
jangan kau jauh menyelam
dalam debur hati berdebam
terbalut panasnya sekam
serta rindu yang mencekam

malam, o malam
sekam itu terbenam
dalam lemari karam
yang hilang terperam
di hati yang terendam

rawamangun, 17.02.2007, 24:36

Perhelatan Puisi dalam Diri

Tanpa disadari perhelatan saya dengan ekspresi tulisan yang dinamakan puisi makin intens. Dari yang tadinya hanya merupakan sarana pelepas pikiran, yang dalam istilah saya menyebutnya dengan ”keran”….hehehe, mulai berubah menjadi semacam ekspresi yang dengan sendirinya muncul dikepala. Klik disini untuk selengkapnya

Jingga Turun di Brooklyn Bridge

lambaikan tangan mu yang berdebu
maka hembusan rindu kan sambut
tatapan nanar berkelambu
di ujung janji nan lembut

jeruji temali mencekal hati
tengadahku menghadap kokoh
sosokmu terpancang di east river
menatap tegar disepanjang alur

kutunggu kau di promenade
dengan jerit hati yang terbalut
dan tatapan manhattan skyline
yang menusuk jantung berkerut

jingga turun di brooklyn bridge
ingin ku bisa memetik kekal
dan menyemainya di dasar kalbu
untuk bekal melepas sepi yang tebal

pondokindah, 15.02.2007, 13:54

thanks buat bang hasan aspahani atas masukkannya..:-)

« Previous Entries