taburkan taburan tabur
kata berkata mengkata
habis terkubur membubur
:ziarah Mu kembali berdebur
rawamangun, 26.04.2007, 23:34
taburkan taburan tabur
kata berkata mengkata
habis terkubur membubur
:ziarah Mu kembali berdebur
rawamangun, 26.04.2007, 23:34
Kini tinggal kita bertiga. Kau, aku dan jasad waktu yang tersisa dalam penantian panjang yang tak berkesudahan. Kelelahan menggurat wajah sepanjang pembuluh darah yang bisa kau sebut. Dan itu semua membekaskan jejak yang dalam.
“Oh, aku lelah….Akankah ini semua berakhir?” ucapmu sambil menahan sesengguk nafas yang makin lama makin membiru. “Sabar sayangku, yakin lah bahwa tidak akan lama lagi semua ini berakhir.” Kataku dengan tatapan kosong yang jelas tergambar kebimbangan yang amat sangat mencekik.
Sementara itu disamping kita berdua terbujur jasad waktu diselimuti lembar-lembar asa bercampur getah-getah kenyataan yang getir sebagai perekat agar tubuh yang makin membiru itu akan tetap hangat dan pada saatnya nanti akan bangkit memberikan harapan yang berwarna.
“Apa kau yakin dia akan kembali bersama kita?,” lirih mu, dengan sembab yang memeluk erat seolah tak ingin lepas dari gelayut wajah yang menyendu. “Ya sayang, dia akan kembali pada kita dan memberi harapan-harapan seperti apa yang aku janjikan dulu pada mu.” Semburat hangat dari pelukanku mengatur aliran nafas mu.
Kini tinggal kita bertiga. Kau, aku dan jasad waktu yang tetap terdiam dalam pergulatan asa dan batin yang tak berkesudahan. Kata demi kata berjatuhan. Asa demi asa terucapkan. Hanya untuk melewati hari-hari dimana tak kan pernah ada yang menghampiri kita bertiga
rawamangun, 04.04.2007, 01:04
/1/
pintu mu terpampang di ujung nafas
di dalamnya ada sejuta pintu kecil
yang menyambutku dengan kecamuk rasa
“masuklah dan kau akan tahu” katamu
dengan wajah berganti detik demi detik
harum mu melipir di pinggir jendela
di dalamnya berkerumun sejuta nakoda
yang siap menangkap angin berlapis awan
“hisaplah dan kau akan fahami” ucapmu
dengan kerutan yang mendayung denyut
/2/
lalu kau tarik hati ini
dalam pusaran jiwa
sebelum akhirnya
kau lontarkan
ke dalam
lautan
semu
yang
penuh
dengan
semburat
merahnya
kemarahan
kemarahan
dan
KE
MA
RA
HAN
/3/
setelah puas kau dapat
selarik ucap kau lepaskan
“maaf aku pinjam hati mu
karena aku ingin bermain
dengan nya”
rawamangun, 02.04.2007, 23:09