Senja dan Jingga

mengunjungi senja
saat ia dipeluk jingga
sebelum akhirnya selimut malam
menyekap dalam sekelebat gumam

menunggu jingga
dari balik jendela hati
seperti melata jiwa
dalam benak sepi

milleniacafe, 29.05.2007, 16.33

Hujan Dalam Kelambu

debu air beterbangan di terjang deru nafas bersahutan menahan segala dahaga agar tidak tumpah ruah ke danau yang terbentuk jika kekeringan melanda kehampaan seolah akan abadi.

sesekali hembusan udara berpapasan demi sejumput kekuatan untuk kembali menjalani ritual dalam kelambu yang sulit untuk di elakkan, karena hasrat dan cinta kadang berpagut sedemikian kuatnya hingga lilitan akar batang jati pun tak mampu mengikatnya.

pada penantian penuh degup, akan sampai di puncak tertinggi dimana kau bisa melihat titik titik air pada ujung rambutnya yang membaur dengan nafas memburu serta menghela seperti segalanya telah terlewati, terobati dan terpenuhi.

lalu seikat hasrat melenggok berlagu menapak di jalan yang kelabu membuai asa nan meragu hingga pulih dalam lugu, akhirnya semua sirna, berwarna, berlabuh dan terbenam dibawah hujan dalam kelambu.

santa, 26.05.2007, 14:22

Moksa

aku terjerembab
ke dalam bab bab
yang tak pernah kuduga
dimana aku kan terjaga

aku terseret dosa
dalam gila memperkosa
rasa pada relung moksa
menekan waktu yang memaksa

sampai satu saat
jiwa ini terlelap
dalam keranda batu
menyongsong waktu

rawamangun, 22.05.2007, 23:24

Gincu & Belacu

gincu dan belacu mengadu pacu
terawang kelam memendam lagu
kik kuk kik kuk cengkeraman candu
melawan hawa beradu gagu

millenianetcafe, 16.05.2007, 14:21

Seikat Rambut, Sekerat Hati

Seikat rambutmu terkepal dalam genggaman hayal ku
dengan harapan bayang mu yang selama ini muncul berubah pejal
dan kembali memelukku pada saat tekanan
dan rindu semakin berat menghimpit

Aku menjadi kecil,
sekecil saat kupecahkan piring kesayangan mu
walaupun sudah kau larang berkali-kali.

Aku menjadi kecil,
sekecil saat hatiku dicuri, dicampakkan
dan kau meredamnya dengan pelukkanmu.

Sekerat hati kini menggigil
Tak ada lagi peluk redam mu
Hanya harap yang makin menepi
Dan menunggu dengan cemas ku

ratuplaza, 14.05.2007, 16:09

Halo?

telponku berdering pagi ini
“halo ayah, aku anakmu”
“halo? dimana kau”
“aku ada di dalam perut ibu”

ratuplaza, 14.05.2007, 12:18

Pada Selembar Sajadah

sajadah terentang
beludru terhampar
tangisku terpampang
rinduku tergambar

sepetak kain dihadapan
mengalasi tebaran duka
sejenak terpana di depan
derai airmata terbuka

peluk Mu terhampar
di selembar kain
tempat ku menebar sujud
dengan gemuruh hati

sampai mengering sudah
tetesan embun di mataku
tinggalkan torehan jejak
yang dalam dan berliku

rawamangun, 09.05.2007, 10:45

Makna & Bunyi (Di Negeri Puisi)

di negeri puisi
makna dan bunyi menyatu
memadu kasih dan benci
sampai akhirnya membatu

di negeri puisi
makna dan bunyi berkilah
saling cabik dan meracik
sampai darah tertumpah

di negeri puisi
makna dan bunyi menari
saling topang dan tarik
sampai gerak jadi derit

santa, 03.05.2007, 12:18

Harap Hampa

selimut sepi kembali tertabur
perlahan mulai membelenggu
berharap tanya makin membaur
menoreh hati yang tergugu

o kasih maafkan lah hati ini
ia memang tertanam di dadaku
tapi jantungmu yang membasahi
dengan merahnya darah membara

o kasih nafasku tersentak
setiap detak nadi dan harum mu
melintas di rasa serentak
makin sadari perih mu karna ku

sepenuh sesal dalam rongga
tertampung riam dalam pedih
tak tahu apa kan terucap
harap hampa pada sedih

blitzmegaplex-gi, 30.04.2007, 16:59

Tinggal Aku Sendiri (dengan kawan kecilku)

Belum habis bulan beranjak dari peraduannya, dimana kita menertawakan sepasang awan yang buyar terterpa dinginnya gelap selimut malam. Dan belum juga kering hijaunya rumput dari tebaran embun, dimana kita berguling diatasnya saling memagut.

Tanpa sadar kita sudah ada di dalam selimut malam itu. Ya…selimut malam yang membuyarkan awan dengan dingin dan gelapnya. Kita tak bisa lagi berguling diatas tebaran embun, karena pelukan rumput tiba-tiba menyadarkan kita bahwa luka baru siap terbentuk dengan kawah-kawah penuh magma.

Kini tinggal aku sendiri dengan kawan kecilku mencoba menjawab seribu pertanyaan yang muncul akibat persekongkolan kami dengan sang ego. Sejuta pengandaian, sejuta pengakuan dan sejuta ketakutan kami torehkan pada sepanjang langit-langit tempat kami terpojok dan teronggok.

Kini tinggal aku sendiri dengan kawan kecilku…

santa, 03.05.2007, 11:24