Menunggu

Tak bersisa sepicing mata pun zikir yang kami semai dalam tahta hati. Seperti hari libur yang telah berdebu kami nantikan yang akhirnya datang jua. Tak bersisa sekeratpun gemerlap bulir padi yang telah keriput kami nantikan. Seperti layaknya seorang anak yang kehabisan gulali di pasar malam.

Sementara di sudut lekuk kerlingmu, berhambur air doa dari mata sedalam jarum yang menusuk tanah berkerak. Lamat-lamat robekan lahan syukur membuncah bersama dahaga yang kami kira tlah mati, mati dan mati!

Kami tak menyangka, derap dan alunan kata lagi-lagi membungkus harapan. Hingga kami lupa bahwa pelan-pelan kami tenggelam dalam alunan mimpi yang melekat hangat di bibir tanpa bisa menyentuh sukma

05.01.2009, 01:49AM

Kelakar

Kelakar itu terulang lagi. Bahak dan kekeh kembali bersama, mengaduk dendam akan laparnya ego dan lelucon sampah yang tak lucu.

“Kiranya tak cukup aku mati dua kali dan kiranya tak luluh geram bertempur dengan waktu”

Ucapmu penuh getar tak tentu dikelilingi kabutkabut yang mendidihkan air menjadi embun tanpa sempat jadi hujan.

Pada puncak letupan, semua mengosongkan isi kepala dan menggantinya dengan arang kelapa yang sudah direndam minyak tanah. Tinggal menunggu bara hinggap maka kita semua akan menyaksikan pesta kembang api yang termeriah di dunia ini.

Kelakar itu terulang lagi. Dengan adonan yang makin mengental, sehingga kita semua tak tahu lagi yang mana yang wajar dan yang mana yang seharusnya kita belajar.

03.01.2009, 08:45PM

Kukatakan Pada Kami

: TSP

Aku berkata pada kami bahwa hujan yang mendera bumi itu adalah serbuk surga yang tanpa sengaja tertumpah dari dapur langit. Kami mengangguk bukan tanda setuju padaku tapi lebih pada kejerian pada hampanya langit seolah butiran kemilau matahari memanggang dalam terik sehingga tak setitik pun bulir hujan dapat bertahan.

Aku berkata pada kami bahwa di setiap pojok yang kami pikir akan masih tersisa sejuknya embun yang aku sebut sebagai serbuk surga tidak pernah ada asa yang mubazir. Karena setiap harapan akan selalu tertanam dalam butiran inti darah setiap mahluk yang nafasnya dipinjamkan olehNya. Oleh karena itu aku ajak kami merenung.

Aku masih akan berkata pada kami bahwa sejauh-jauhnya kami berjalan jangan lah lupa untuk membersihkan ku dari debu suram yang selalu menghalangi tubuh dari hangatnya mentari dan juga sejuknya embun. Dan kami pun berkata pada ku, mulailah dari kaki karena pijakan yang nyaman akan jadi penopang yang baik. lalu akhirilah di kepala karena setelah semuanya berbaur dalam gelombang hujan, maka butiran serbuk surga akan selalu menunggu untuk dijunjung.

22.12.2008, 01:58AM

Sekepal

sekepal rasa membuncah megah
memeluk erat menjerat nafas

sekepal hasrat coba merangkul
ronta merebak beku bertahan

sekepal angin mencecar lembayung
basuh nestapa taubat menelikung

sekepal sesal melayang jauh
harap kembali keratan asa

20.12.2008, 01:46AM

Malaikat

jika aku malaikat
kurindu sayap putihku
yang telah lama hilang
dicuri perompak dunia

14.12.2008. 10:13AM

Nikmat Itu Memeluk

: arik

nikmat itu memeluk
dalam keangkuhan yang menerpa
mencoba menjarah dengan jarak
dan perlahan mencuri butiran hati
yang lama terkubur dalam inti bumi

13.12.2008, 02:47AM

Senja Membalut Luka

senja kembali dari kubur
menghitung luka yang tersebar di antara dua sudut ufuk
menyala meradang serta lepuhannya mampu membungkam seribu lebah
dipikirnya langit ingin membantu
dengan menumpahkan butiran biru yang segar kukira
tapi seribu sayatan tak dinyana yang didapat
hingga makin bertebaranlah luka di sepanjang garis langit

luka kembali berjatuhan
seiring dengan raungan zat hara nan meranggas
menyayat bagai pinggiran sebilah kertas tak berdaya
dipikirnya bumi ingin minum
dengan ribuan bakal poripori yang berlomba mengisap
tapi nyatanya perih yang didapat
hingga tetesan darah menjadikan tanah sekelam hitam

13.12.2008, 01:51AM

Ungu

: teman yang meninggalkan kita

tiba-tiba kita menjadi terasing di dalam pagar sendiri
takut menjalar mencubiti sekujur kulit kepala
dan curiga menghela tali kusir yang terlilit di leher
tak bisa lagi menjumput tawa karena telah lepas ke laut
lihat warna warni itu ketika bercampur birunya samudra
tersisa hanya pucuk-pucuk asa yang belum lagi siap di panen
yang terpaksa ku ambil dan ku rangkai dalam bebatan doa
dalam bungkusan selimut hampa reka mereka

Bunga luka berdarah ungu dalam sekelebatan angin
tak sempat menghirup, tak sempat menghela
yang kuingat hanyalah sosok bayang yang makin menipis
menguap bagai embun menjelang siang
Malaikat yang biasanya menuntunku sedang mengaso di warung
penat juga rupanya membopong segembol rasa yang makin tumbuh
bergelambir dan meronta seolah telah habis hirupan nafas yang ada

Aaah….rasa ini

11.12.2008, 06:21PM

Habis

habis kata kuperah malam ini
sampai kosong ada tersisa
dalam rata perangah suram sepi
biarkan suara mengering sudah

habis rasa tertanam dalam dada
biar hilang terkubur raga
angin masa merekam malam terjaga
dan punah sudah lebur melanda

habislah punahku
dan punahlah habisku

: dalam ceruk sepinya hati

26.11.2008, 03:27

*kolaborasi antara Bangwin dan Naz*

Musuh Yang Tangguh

: KY

singgasana langit telah lama kosong
sesepi malam ketika bebintangan tertidur
apa lagi yang tersisa?

sejumput cahya berbalut hangat
yang tersenyum saat dibuai
walau harus mati ketika tahu
ia musuh yang tangguh
saat kemarau berakhir

23.10.2008, 02:00AM

*ini sajak jawaban untuk sajak Ki Sanak KY*

« Previous Entries