Tak bersisa sepicing mata pun zikir yang kami semai dalam tahta hati. Seperti hari libur yang telah berdebu kami nantikan yang akhirnya datang jua. Tak bersisa sekeratpun gemerlap bulir padi yang telah keriput kami nantikan. Seperti layaknya seorang anak yang kehabisan gulali di pasar malam.
Sementara di sudut lekuk kerlingmu, berhambur air doa dari mata sedalam jarum yang menusuk tanah berkerak. Lamat-lamat robekan lahan syukur membuncah bersama dahaga yang kami kira tlah mati, mati dan mati!
Kami tak menyangka, derap dan alunan kata lagi-lagi membungkus harapan. Hingga kami lupa bahwa pelan-pelan kami tenggelam dalam alunan mimpi yang melekat hangat di bibir tanpa bisa menyentuh sukma
05.01.2009, 01:49AM